Saya Masih Belajar

Ancora Imparo – I am still learning

RENUNGAN INDAH by WS Rendra

Posted by sayamasihbelajar on 7 August 2009

RENUNGAN INDAH
W.S. Rendra

Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”, dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…
“ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
(WS Rendra).

Selamat jalan bung Rendra, semoga diterima Allah swt. Karya2 anda inspirasi bagi saya sejak lama.

Posted in Pemograman | Leave a Comment »

Pemilu, Golput dan Kallamatika

Posted by sayamasihbelajar on 6 July 2009

Sudah 2 kali pemilu saya Golput. Tahun 2004 memang tidak kepingin ikut memilih, tahun ini karena gak terdaftar. Status sebagai perantau membuat kesulitan untuk mendaftar memilih, mesti mengurus kesana kemari termasuk kirim surat ke daerah asal.
Pilpres kali ini lumayan menarik, tapi sepertinya predictable. SBY seperti dijagokan banyak survey kemungkin besar akan jadi presiden 5 tahun lagi. Tapi walaupun Golput, dalam hati saya mendukung Yusuf Kalla untuk presiden. Kecil kemungkinannya memang, karena dia jauh kalah populer dari sang Presiden SBY. Dia kalah dari SBY dari sisi kecakapan, wibawa dan kharisma.
Tapi Kalla dengan tubuh kecilnya bagi saya melambangkan kegesitan dan pemikiran yang out of the box. Terkadang dia melontarkan ide yang tidak populer tapi dia bisa menjustifikasi secara secara rasional bahwa ini untuk kepentingan yang lebih luas.
Orang yang anti bilang dia grasa grusu, tapi sifatnya memang terbawa oleh latar belakangnya sebagai pengusaha. Pengusaha ingin birokrasi yang tidak berbelit-belit saat berinvestasi, banyak hal semestinya mudah dan cepat dibuat lambat oleh aturan dan prosedur. Saya ingat ketika Pemprov NTB kesulitan karena permasalahan investasi di Emaar yang belum selesai2 dan Pembangunan bandara BIL yang masih terseok-seok karena ijin dari pemerintah pusat, di depan pejabat Pemprov NTB dia menelpon Mensesneg untuk segera pada hari itu juga menandatangani ijin dan keppres mengenai kedua masalah ini. Cara keputusan ‘Kalau Bisa cepat kenapa perlu diperlambat’ ini bukan hanya sekali dibuktikan oleh Kalla dan ini yang membuat orang mengaguminya.
Saya pernah mendengar Eep Syaifullah dalam sebuah acara TV menyebut istilah ‘Kallamatika’, saya cari di Google ada kolom bang Eep mengenai Kallamtika ini di majalah berita Tempo sekitar bulan maret 2009. Berikut  tulisannya:

Kallamatika

Eep Saefulloh Fatah

  • Pemerhati politik dari Universitas Indonesia

PADA Muhammad Jusuf Kalla kita bersua yang kita rindukan sekaligus kita cemaskan. Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan sigap meminta maaf kepada Malaysia karena kiriman asap kebakaran hutan Indonesia mengganggu negeri jiran itu, Kalla berkelit.

Di tengah kunjungan kontroversialnya ke Malaysia yang merayakan tahun emas kemerdekaan mereka, Kalla didesak menyatakan permohonan maaf serupa. Alih-alih, ia balas menyerang.

Orang Malaysia, katanya, hanya terserang asap selama sekitar satu bulan. Sementara dalam sebelas bulan sisanya, Malaysia dikirimi udara segar dan sehat dari hutan-hutan Indonesia. Ia menggugat: mengapa Malaysia tak pernah berterima kasih untuk kiriman udara segar-sehat itu, dan hanya sibuk menuntut Indonesia minta maaf karena asap kebakaran hutan yang cuma sebulan?

Di depan delegasi Uni Eropa yang memuji Indonesia se­bagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Kalla justru menghardik. Indonesia, katanya, tak butuh puji-pujian itu. Yang Indonesia butuhkan adalah pembuktian persahabatan antarnegara demokratis, berupa masuknya investasi dan peningkatan hubungan ekonomi. Tanpa itu, puji-pujian hanya basa-basi.

Di Tokyo, Kalla digugat karena Indonesia gagal mengelola hutannya dan menjadi negara perusak hutan tercepat di dunia. Kalla menjelaskan, kerusakan hutan itu berkembang tak terkendali sejak Amerika Serikat dan Jepang, pada 1970-an, mengenalkan pada Indonesia teknologi pengolahan bubur kayu, yang antara lain menghasilkan produk olahan semacam tripleks.

Jepang, katanya, punya kontribusi besar dalam laju perusakan hutan itu. Kalla pun menuntut agar Jepang—sebagaimana masyarakat internasional lainnya—melihat kerusakan hutan itu bukan semata-mata sebagai perkara domestik Indonesia. Kalla justru mengajak Jepang melibatkan diri secara lebih aktif untuk merehabilitasi hutan Indonesia.

Kita merindukan seseorang yang memadukan keluguan, terus-terang, percaya diri, dan diplomasi yang berkarakter. Untuk sebagian, kita menemukannya pada Kalla. Tapi, kemampuannya mengambil risiko yang di atas rata-rata, ketergesaan langkahnya, pragmatismenya yang kerap kali telanjang, tak urung membikin kita cemas.

Maka, Kalla adalah sejumlah paradoks. Ia, sekadar misal, adalah politikus yang amat realistis, tapi juga bisa bertindak di luar dugaan karena optimisme dan percaya dirinya yang begitu besar.

Pilihannya mencelat dari Konvensi Nasional Golkar dan bergabung ke Yudhoyono dalam Pemilihan Presiden 2004 adalah bukti realisme Kalla. Ia lalu secara realistis menjalankan fungsinya sebagai ”the real vice president” di bawah kepemimpinan Presiden yang memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda secara diametral dengannya.

Lepas dari sejumlah ketegangan politik yang sempat menyeruak dari hubungan Yudhoyono-Kalla selama meme­rintah, harus diakui bahwa realisme Kalla (dan Yudhoyono) sejauh ini telah sukses membuat mereka tak terpecah. Atas nama realisme politik itulah keduanya bertahan me­ngelola kohabitasi—berpadunya dua pejabat dari partai berbeda untuk mengelola satu biduk pemerintahan— hingga hari-hari ini.

Namun, Kalla juga seorang optimistis dengan keperca­yaan diri besar. Ia optimistis mampu mengelola pemerintahan. Ia juga optimistis tentang nasib Golkar dalam Pemilu Legislatif 2009. Ia yakin Golkar bisa meraih hingga 30 persen kursi DPR.

Perhitungannya: 16 persen pemilih loyal Golkar, 5 persen tertarik karena iklan Golkar yang sekarang sedang digencarkan terutama melalui televisi, 5-7 persen sebagai hasil kampanye para calon anggota legislatif Golkar dari pintu ke pintu, dan sekian persen sisanya merupakan limpahan suara partai-partai kecil yang tak lolos parliamentary threshold, yang kemudian dilimpahkan ke Golkar (partai dengan sebaran dukungan nasional terbaik, menurut dia).

Atas nama realisme, masuk akal jika Kalla memilih kembali menjadi sekondan Yudhoyono dalam Pemilihan Presiden 2009. Namun optimisme dan percaya dirinya bisa saja mendorong Kalla maju lebih ke depan, mengubah duetnya dengan Yudhoyono menjadi duel.

Terlebih-lebih, Kalla dikelilingi sejumlah politikus pokok Partai Golkar yang mencita-citakan kekuasaan lebih besar bagi Golkar dalam lembaga eksekutif selepas Pemilu 2009.

Paradoks lain Kalla: ia sadar akan pentingnya dukungan publik, tapi terlihat enggan mengubah gayanya di depan khalayak. Ia sadar benar bahwa demokrasi menempatkan para pemilih sebagai penentu.

Demokrasi adalah era persekutuan di antara popular­itas dan elektabilitas. Tetapi, di tengah kesadaran ini, ia terlihat enggan mengubah gaya politiknya di depan khalayak. Ia membiarkan Yudhoyono mematut-matut diri se­bagai seorang presiden yang ”amat presidensial”: berjarak, tertata, terbentengi birokrasi istana. Tapi, ia membiarkan dirinya menjadi bergaya bak orang biasa, seperti tetangga di sebelah rumah kita.

Lalu, ketika tiba-tiba Kalla mengubah langgam berpolitik, menjadi lebih ofensif, dan menegaskan kesediaannya maju sebagai kandidat presiden, apa yang sesungguhnya terjadi? Bagi saya, jawabannya terletak pada satu frase kunci: matematika politik Kalla—alias Kallamatika.

Kallamatika adalah rumus sederhana yang memadukan penciuman politik tajam, kalkulasi pragmatis, dan kehendak kuat untuk menang. Penciuman tajam Kalla pertama saya temukan hampir persis lima tahun lalu, tepatnya 11 Maret 2004.

Dering telepon di apartemen saya di Columbus, Ohio, Amerika Serikat, pada pukul 02.00 dini hari itu, memba­ngunkan saya. Dari seberang terdengar suara Kawiyan, reporter sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta.

Ia memberi tahu saya bahwa Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (waktu itu) Susilo Bambang Yudhoyono sudah mengirim surat pengunduran diri dari kabinet kepada Presiden Megawati Soekarnoputri, dan segera menggelar jumpa pers. Ia juga meminta kesediaan saya untuk wawancara jarak jauh yang ditayangkan langsung tentang isu itu.

Belum bangun sepenuhnya, saya mengiyakan, dengan satu syarat: diberi waktu menghubungi beberapa narasumber di Tanah Air yang akan membuat saya lebih memahami situasi secara layak. Orang pertama yang saya hubungi tentulah sang hulu hikayat: Yudhoyono.

Fajar, ajudan Yudhoyono, mengangkat telepon saya dan memberi tahu bahwa Yudhoyono akan menelepon saya balik segera setelah pertemuannya dengan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (waktu itu) Muhammad Jusuf Kalla.

Dalam pembicaraan via telepon internasional, beberapa saat kemudian, selain menjelaskan isi surat pengunduran dirinya, Yudhoyono mengapresiasi tinggi Kalla, koleganya dalam pemerintahan yang dinilainya memiliki ruang simpati dan empati paling lapang bagi dirinya.

Pada dini hari (waktu Columbus atau petang waktu Jakarta) itulah saya untuk pertama kali yakin bahwa Yu­dhoyono-Kalla suatu saat akan maju sebagai pasang­an kandidat presiden-wakil presiden. Dini hari itu pula diam-diam saya mengakui tajamnya daya endus politik Jusuf Kalla.

Juli 2008. Dalam pertemuan dengan 11 pengamat politik di kediaman resminya di seberang Masjid Sunda Kelapa, Wakil Presiden Kalla memberikan beberapa penegasan. Ia sangat yakin bahwa pemerintahan Yudhoyono-Kalla berada dalam jalur yang benar. Ia yakin, jika diberi kesem­patan lebih panjang, mereka akan mengantar Indonesia pada kelimpahruahan ekonomi pada 2011.

Di atas segalanya, Kalla mengaku tak terlalu memikirkan mau jadi apa (tafsir saya: jadi wakil presiden lagi pun tak masalah) dan lebih senang memusatkan pikiran dan energi untuk dengan selamat menggapai 2011 itu.

Dalam beberapa pertemuan pribadi empat mata sebelum dan sesudah diskusi Juli 2008 itu, Kalla memberikan penegasan berulang bahwa ia sadar benar betapa pentingnya berhitung secara cermat sebelum memutuskan ayunan langkah. Ia menegaskan bahwa menghadapi 2009 adalah kesediaan untuk menang, bukan sekadar memaksakan diri mengejar posisi tertentu.

Lalu, melihat langkah-langkah politik ofensif yang di­ayunnya belakangan ini, sebagian orang bertanya, apakah Kalla sudah siap kalah dan kehilangan segalanya, berhadapan dengan Yudhoyono yang popularitasnya sedang pasang naik. Perhitungan politik apa yang digenggamnya sehingga ia terlihat begitu yakin dengan langkah ofensif barunya itu?

Langkah ofensif itu dibentuk oleh penciuman tajam Kalla­ mengenai apa yang sedang berkembang di sekitar­nya: Yudhoyono yang dinilainya mulai pasang kuda-kuda, dina­mika dan ketegangan dalam Partai Golkar yang mulai memuncak, dan intuisi politiknya tentang pencarian peluang-peluang alternatif.

Saya yakin, Kalla hanya akan bersedia maju manakala kalkulasi pragmatisnya ”mengizinkan” itu. Jika tidak, ia bisa saja merasa nyaman kembali bersama Yudhoyono, sekalipun dengan risiko mesti memadamkan gejolak dalam Golkar yang bakal membara karena itu.

Jangan lupa, cara kerja Kallamatika sejatinya sederhana saja: memadukan penciuman politik tajam, kalkulasi pragmatis, dan kehendak kuat untuk menang.

Posted in Sosial | Leave a Comment »

Dik fardan dah 8 bulan…

Posted by sayamasihbelajar on 4 June 2009

adik nengok ke atas

adik senyum

adik senyum

Tambah besar,

Tambah ndut,

Tambah ganteng,

tambah nakal… :)

Posted in aku dan keluarga | Leave a Comment »